Senin, 16 Maret 2009

The History of Project Management

Sebagai disiplin, Manajemen Proyek yang dikembangkan dari berbagai bidang termasuk aplikasi konstruksi, teknik dan pertahanan. Di Amerika Serikat, yang nenek moyang dari manajemen proyek adalah Henry Gantt, disebut ayah dari perencanaan dan pengawasan teknik yang dikenal baik sekali untuk menggunakan Gantt chart sebagai alat manajemen proyek, untuk menjadi seorang sekutu dari Frederick Winslow Taylor's teori manajemen ilmiah [1], dan untuk belajar dari pekerjaan dan pengelolaan Navy bangunan kapal. Karyanya adalah pelopor ke beberapa proyek perangkat manajemen modern termasuk rincian struktur kerja (WBS), dan alokasi sumber daya.

1950-an yang ditandai awal era modern Manajemen Proyek. Sekali lagi, di Amerika Serikat, sebelum tahun 1950-an, proyek-proyek yang dikelola pada ad hoc dasar umumnya menggunakan Gantt Charts, dan informal teknik dan alat-alat. Pada saat itu, dua matematis model penjadwalan proyek tersebut dikembangkan: (1) "Program Evaluasi dan Teknik Tinjauan" atau bebas, dikembangkan oleh Booz-Allen & Hamilton sebagai bagian dari Amerika Serikat Navy's (bersama dengan Lockheed Corporation) Polaris peluru pemburu Program [2]; dan (2) "Metode Critical Path" (BPS) yang dikembangkan dalam kerjasama baik oleh DuPont Corporation dan Remington Rand Corporation untuk mengelola proyek pemeliharaan tanaman. Matematika teknik ini dengan cepat menyebar ke berbagai perusahaan swasta.

Pada saat yang sama, teknologi untuk memperkirakan biaya proyek, biaya manajemen, teknik dan ekonomi yang berkembang, dengan merintis karya Hans Lang dan lain-lain. Pada tahun 1956, American Association of Engineers Biaya (sekarang AACE International; Asosiasi untuk kemajuan dari Biaya Rekayasa) dibentuk oleh praktisi awal proyek dan manajemen yang terkait istimewa dari perencanaan dan penjadwalan, memperkirakan biaya, dan biaya / jadwal kontrol (proyek kontrol). AACE para perintis terus bekerja dan pada tahun 2006 yang dirilis pertama kalinya terpadu proses untuk portofolio, program dan manajemen proyek (Total Biaya Manajemen Framework).

Pada 1969, Lembaga Manajemen Proyek (PMI) dibentuk untuk melayani kepentingan proyek manajemen industri. Dengan alasan dari PMI adalah bahwa alat dan teknik manajemen proyek yang umum di kalangan bahkan meluas aplikasi proyek perangkat lunak dari industri ke industri konstruksi. Tahun 1981, maka PMI Direksi berwenang pengembangan dari apa yang telah menjadi ke J Panduan Manajemen Proyek dari Badan Knowledge (PMBOK Guide), yang berisi standar dan pedoman dari praktek yang banyak digunakan di seluruh profesi. International Project Management Association (IPMA), yang didirikan di Eropa pada tahun 1967, telah mengalami perkembangan yang sama dan instituted yang Baseline IPMA Kompetensi (ICB). Fokus dari ICB juga dimulai dengan pengetahuan sebagai sebuah yayasan, dan menambah pertimbangan tentang pengalaman yang relevan, keterampilan interpersonal, dan kompetensi. Kedua organisasi telah berpartisipasi dalam pengembangan sebuah proyek manajemen standar ISO


Dikutip dari: http://constructionenglish.net/id/history-project-management-2/

Minggu, 15 Maret 2009

Opsi dan tujuan Paket Infrastruktur 2006

Berdasarkan Peraturan Presiden nomor 67 Tahun 2005 Presiden menginstruksikan agar departement keuangan bertanggung jawab dalam memberi persetujuan atau menolak dukungan pemerintah terhadap proyek-proyek infrastruktur, berdasarkan kriteria yang ditetapkan oleh menteri. Uraian berikut ini adalah berkaitan dengan kriteria-kriteria yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan menerima atau menolak usulan proyek Infrastruktur dan implikasinya terhadap pekerjaan menteri keuangan.

Opsi dan Tujuan

Untuk pengadaan Infrastruktur, pemerintah mempunyai banyak pilihan (Opsi) dengan asumsi sudah disetujui oleh DPR. Sebaian dari opsi tersebut dapat dilihatpada daftar dibawah ini. Tetapi harap diperhatikan bahwa dengan dimasukkannya opsi kedalam daftar tidak berarti ada pilihan lain. Opsi lain masih tetap terbuka selain yang tercantum dalam daftar berikut ini:
- Mencari pendanaan dari sektor swasta tanpa dukungan pemerintah
- Pemerintah sendiri yang investasi pada Infrastruktur
- Pembiayaan konstruksi petungan dengan pihak swasta (Sebagai contoh, membayar setengah dari biaya konstruksi jalan tol)
- Investasi atai beri pinjaman kepada Badan Usaha Milik Negara (Sebagai contoh pinjam dari bank pembangunan multilateral dan pinjamkan kepada Perusahaan Listrik Negara)
- Menjamin pinjaman Badan Usaha Milik Negara (Sebagai contoh pemerintah menjamin penerbitan obligasi)
- Menjamin pembayaran utang BUMN kepada perusahaan swasta (Sebagai contoh pemerintah menjamin utang PLN kepada pembangkit listrik independen)
- Melindungi perusahaan swasta atau si pemberi pinjaman dari risiko-risiko lain dengan janji (komitmen) dapat dibeli kembali atau tidak dapat dibeli kembali (Sebagai contoh menjamin pendapatan tertentu kepada pengusaha toll-road atau janji menaikkan tarif tol atau member ganti rugi terhadap pendapatan yang tidak tercapai sebagaimana diperkirakan)
- Memberi subsidi kepada harga penjualan kepada pelanggan (Misalnya membayar satu rupiah untuk setiap rupiah yang ditagih dari pengemudi)
- Menandatangani kontrak jangka panjang dengan perusahaan swasta (Sebagai contoh setuju membayar shadow-toll untuk jalan bukan tol yang didanai oleh swasta)
- Berikan perusahaan swasta membangun Infrastruktur menggunakan tanah dan aktiva lain.
- Berikan tax holiday atau pembebasan pajak lainnya kepada perusahaan swasta pembangun Infrastruktur.

Strategi

Asumsi perangkat strategi pemerintah dalam pengadaan infrastruktur adalah bahwa pemerintah harus memilihopsi yang memaksimumkan manfaat bersih (Net benefits) bagi Indonesia, dengan mempertimbangkan manfaat pelayanan infrastruktur baru dan biaya fiskal serta risiko yang timbul dariopsi (Pilihan).
Dukungan pemerintah untuk membiayai infrastruktur harus jelas pada saat keputusan memastikan dukungan yang dibuat, sebab pemerintah membayar kembali secara kas pada tahun anggaran berikut (Sebagai contoh, opsi b,c dan d). Keputusan memberikan dukungan dapat dilakukan melalui proses penganggaran biasa.
Mungkin juga dukungan pemerintah untuk membiayai infrastruktur tidak jelas pada saat keputusan dilakukan,karena pembayaran kembali dilakukan setelah satu tahun anggaran berikutnya dan hanya mungkin jika sesuatu terhadi atau tidak terjadi. Untuk tujuan pembukuan (Tujuan akuntansi), dukungan pembiayaan semacam diatas mungkin menimbulkan contingent lialibilities. Dukungan semacam itu disebut juga sebagai deffered goverment support.
Deffered goverment support dapat menarik perhatian para politisi dan menginginkan agar selaras dengan target fiskal, anggaran defisit dan sesuai dengan keinginan dunia usaha pemberian subsidi yang transparan. Jadi pemerintah mungkin tergoda menawarkan dukungan yang melebihi sepatutnya. Lagi pula deffered goverment support dapat membantu pengadaan jasa infrastruktur dan menolak semua deffered support yang mungkin bukan policy yang terbaik. Beberapa bentuk deffered support dapat membantu pemerintah didalam pengadaan infrastruktur dengan biaya serendah mungkin bagi Indonesia

Tren Manajemen Media

Pada dasarnya, manajemen erat kaitannya dengan organisasi. Organisasi menurut Griffin (2002) adalah “a group of people working together in a structured and coordinated fasion to achieve a set of goals”. Orgnisasi adalah sekelompok orang yang berkerja sama dalam struktu dan kordinasi tertentu dalam mencapai serangkaian tujuan tertentu. Sekumpulan oang atau kelompok yang memiliki tujuan tertentu dan berupaya untuk mewujudkan tujuannya melalui kerjasama. Organisasi menurut Griffin memiliki sumber daya, yaitu : sumber daya manusia (human resources), sumber daya alam (natural resources), sumber daya dana (financial resources) atau keuntungan (funds) dan sumber daya informasi (informational resources). Bagaimana keseluruhan sumberdaya dikelola melalui kerjasama orang-orang yang berbeda sehingga tujuan organisasi tercapai. Disinilah pentingnya manajemen.

Lantas, apa yang dimaksud dengan manajemen ? Manajemen, seperti diungkapkan oleh Mary Parker Foller (1997) adalah seni dalam menyelesaikan sesuatu melalui orang lain. Management is the art of getting things done trough people. Nickels,McHugh and McHugh (1997) mendefinisikan manajemen sebagai : sebuah proses yang dilakukan untuk mweujudkan tujuan organisasi melalui rangakian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya. “The process used to accomplish organizational goals thorugh planning , organizing, diricting, and controlling people and other organizational resources”.

Salah satu definisi manajemen seba-gaimana dicatat Encyclopedia Americana berbunyi ” the art of coordinating the ele-ments of factors of production towards the achievement of the purposes of an organization”. Pencapaian sasaran organisasi terjadi melalui peng-gunaan manusia (men), bahan produksi (materials), dan mesin (machines).
Namun demikian, benang merah pengertian manajemen adalah bahwa ma-najemen merupakan proses koordinasi berbagai sumberdaya organisasi (men, ma-terials, machines) dalam upaya mencapai sasaran organisasi.
Manajemen juga diyakini berasal dari
bahasa Prancis kuna ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Karenanya, manajemen dapat diartikan sebagai ilmu dan seni tentang upaya untuk memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan secara efektif dan efesien.
Berbagai pengertian tentang manajemen disebut berbeda dalam definisi tetapi mengandung esensi yang sama. Dapat disimpulkan manajemen merupakan seni atau proses dalam menyelesaikan sesuatu yang terkait dengan pencapaian tujuan, dalam penyelesaian sesuatu tersebut terdapat 3 faktor yang terlibat, yaitu :
1. Adanya penggunaaan sumber daya organisasi.
2. Adanya proses yang bertahap mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pengarahan hingga pengendalian dan pengawasan.
3. Adanya seni dalam menyelesaikan pekerjaan.
Manajemen dibutuhkan agar tujuan organisasi dapat dicapai secara efektif dan efisien. Efektif menurut Peter F Drucker adalah “mengerjakan pekerjaan yang benar” (doing the right things), sedangkan efisien adalah “mengerjakan pekerjaan dengan benar” (doing things right)


Disanding dari: http://omby.wordpress.com/2007/11/05/tren-manajemen-media/

Konsep Manajemen Proyek

Manajemen proyek sistem informasi ditekankan pada tiga faktor, yaitu : manusia,
masalah dan proses. Dalam pekerjaan sistem informasi faktor manusia sangat berperan
penting dalam suksesnya manajemen proyek. Pentingnya faktor manusia dinyatakan
dalam model kematangan kemampuan manajement manusia (
a people management
capability maturity model
/ PM-CMM) yang berfungsi untuk meningkatkan kesiapan
organisasi perangkat lunak (sistem informasi) dalam menyelesaikan masalah dengan
melakukan kegiatan menerima, memilih, kinerja manajemen, pelatihan, kompensasi,
pengembangan karier, organisasi dan rancangan kerja serta pengembangan tim.
3.1.1. Dasar-Dasar Organisasional
Organisasi adalah sistem yang saling mempengaruhi dan salaing bekerja sama
antara orang yang satu dengan orang yang lain dalam suatu kelompok untuk mencapai
suatu tujuan tertentu yang telah disepakati bersama. Organisasi merupakan sistem
maka terdiri dari beberapa elemen yaitu :
1. orang, dalam organisasi harus ada sekelompok orang yang bekerja dan salah
satunya ada yang memimpin organisasi tersebut.
2. tujuan, dalam organisasi harus ada tujuan yang harus dicapai, baik dalam jangka
pendek maupun jangka panjang.
3. posisi, setiap orang yang ada dalam suatu organisasi akan menempati posisi atau
kedudukannya masing-masing.
4. pekerjaan, setiap orang yang ada dalam organisasi tersebut mempunyai pekerjaan
(job) masing-masing sesuai dengan posisinya.
5. teknologi, untuk mencapai tujuan organisasi membutuhkan teknologi untuk
membantu dalam pengolahan data menjadi suatu informasi.
6. struktur, struktur organisasi merupakan pola yang mengatur pelaksanaan pekerjaan
dan hubungan kerja sama antar setiap orang yang ada dalam organisasi tersebut.
7. lingkungan luar, merupakan elemen yang sangat penting dan akan mempengaruhi
keberhasilan suatu organisasi, misalnya adanya kebijakan pemerintah tentang
organisasi.
Prinsip-prinsip organisasi adalah nilai-nilai yang digunakan sebagai landasan kerja
bagi setiap orang yang ada dalam organisasi tersebut untuk mencapai keberhasilan
tujuan yang telah disepakati. Prinsip-prinsip yang ada dalam organisasi meliputi :
1. tujuan organisasi yang jelas
2. tugas yang dilakukan harus jelas
3. pembagian tugas yang adil
4. penempatan posisi yang tepat
5. adanya koordinasi dan integrasi
Manajemen dalam organisasi terdiri dari tiga tingkatan pembuat keputusan
manajemen yaitu : manajemen tingkat bawah (operasional), manajemen tingkat
menengah (perencanaan dan kontrol manajerial) dan manajemen tingkat atas
(strategik). Setiap level memiliki tanggung jawabnya sendiri-sendiri dan semuanya
bekerja sama dalam mencapai tujuan dan sasaran.
1. Manajemen tingkat bawah (operasional)
- Manajer operasional membuat keputusan berdasarkan aturan-aturan yang telah
ditetapkan sebelumnya dan menghasilkan hal-hal yang dapat diprediksikan bila
diterapkan dengan benar.
- Manajer operasi adalah pembuat keputusan yang pekerjaannya lebih jelas
sehingga dapat mempengaruhi implementasi dalam jadwal kerja, kontrol
inventaris, penerimaan, dan pengontrolan proses-proses seperti produksi.
- Manajer operasi membutuhkan informasi internal yang repetitif, dan sangat
tergantung pada informasi yang memuat tentang kinerja terbaru dan merupakan
pengguna
on-line
terbesar, sumberdaya-sumberdaya informasi
real-time
2. Manajemen tingkat menengah (perencanaan dan kontrol manajerial)
- Manajer tingkat menengah membuat perencanaan jangka pendek dan
mengontrol keputusan-keputusan tentang bagaimana sumberdaya bisa
dialokasikan dengan baik untuk memenuhi tujuan-tujuan organisasional, dan
meramalkan kebutuhan-kebutuhan sumberdaya dimasa datang untuk
meminimalkan problem-problem pegawai yang dapat membahayakan
produktivitas.
- Manajer tingkat menengah sangat tergantung pada informasi internal dan
membutuhkan sangat besar informasi
real- time
agar dapat melakukan
pengontrolan dengan tepat dan informasi terbaru atas kinerja yang diukur sesuai
standar.
3. Manajemen tingkat atas (strategik)
- Manajer strategik membuat keputusan-keputusan yang akan membimbing
manajer operasional dan manajer tingkat menengah.
- Manajer strategik bekerja di lingkungan pembuat keputusan yang sangat tidak
pasti. Membutuhkan informasi yang bersifat strategis, karena tugas kesehariannya
adalah pengarahan dan perencanaan.
- Informasi yang strategis diperlukan untuk menilai tingkat keberhasilan organisasi
menjalankan tugas dan tujuan organisasi.
- Membutuhkan informasi internal (agar bisa beradaptasi dengan perubahan-
perubahan yang terjadi dengan cepat) dan informasi eksternal (untuk mengetahui
peraturan pemerintah,kebijakan perekonomian, kondisi pasar dan strategi
perusahaan-perusahaan pesaing)
Disandung dari: http://jauari88.wordpress.com/2007/11/21/konsep-manajemen-proyek/

Manajemen risiko

Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: Penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumberdaya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi risiko tertentu. Manajemen risiko tradisional terfokus pada risiko-risiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, serta tuntutan hukum. Manajemen risiko keuangan, di sisi lain, terfokus pada risiko yang dapat dikelola dengan menggunakan instrumen-instrumen keuangan.

Sasaran dari pelaksanaan manajemen risiko adalah untuk mengurangi risiko yang berbeda-beda yang berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai jenis ancaman yang disebabkan oleh lingkungan, teknologi, manusia, organisasi dan politik. Di sisi lain pelaksanaan risk manajemen melibatkan segala cara yang tersedia bagi manusia, khususnya, bagi entitas manajemen risiko (manusia, staff, dan organisasi).

Dalam perkembangannya Risiko-risiko yang dibahas dalam manajemen risiko dapat diklasifikasi menjadi

  • Risiko Operasional
  • Risiko Hazard
  • Risiko Finansial
  • Risiko Strategik

Hal ini menimbulkan ide untuk menerapkan pelaksanaan Manajemen Risiko Terintegrasi Korporasi (Enterprise Risk Management). Manajemen Risiko dimulai dari proses identifikasi risiko, penilaian risiko, mitigasi,monitoring dan evaluasi.

Disandung dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_risiko

Manajemen procurement

Manajemen Procurement adalah manajemen pengadaan barang dan jasa. Artinya proses manajemen (pengelolaan) dalam usaha memperoleh barang atau jasa yang merupakan bagian dari mata rantai suatu sistem produksi tertentu.Misalnya dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah Indonesia memiliki regulasi yang disebut Keputusan Presiden (Keppres) nomor 80 tahun 2003. Dalam Keppres tersebut belanja pemerintah yang bertujuan mengadakan fasilitas barang dan jasa kebutuhan pemerintah dalam menyelenggarakan negara tunduk pada pengaturan tersebut. Misalnya belanja kebutuhan infrastruktur pemerintah yang tergolong dalam kebutuhan prasarana fisik konstruksi diselenggarakan oleh departemen Pekerjaan Umum dan departemen terkait lainnya berdasarkan tatacara yang diatur dalam Keppres 80/2003 tersebut. Sejalan dengan hal tersebut pemerintah Amerika Serikat pun dalam mengatur kebutuhan pengadaan belanja barang dan jasa konstruksi memiliki semacam Procurement Regulation sendiri, demikian pula dengan Australia dan negara-negara Eropa.

Disandung dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_procurement