Sabtu, 21 Februari 2009

Paradigma Baru Internal Auditor

Perkembangan profesi internal auditing dalam era globalisasi saat ini sangat pesat, bahkan Internal auditor telah diakui keberadaannya sebagai bagian dari organisasi perusahaan (corporate governance) yang dapat membantu manajemen dalam meningkatkan kinerja perusahaan, terutama dari aspek pengendalian. Dimana dalam perkembangannya, telah terjadi perubahan pandangan terhadap profesi internal auditor dari paradigma lama yang masih berorientasi pada mencari kesalahan (watchdog) menuju paradigma baru yang lebih mengedepankan peran sebagai konsultan dan katalis. Selain itu juga telah terjadi pendekatan baru dalam internal audit yaitu risk based audit approach.

The Institute of Internal Auditor pada tahun lalu (2001) telah melakukan redifinisi terhadap internal auditing. Disebutkan bahwa internal auditing adalah suatu aktivitas independen dalam menetapkan tujuan dan merancang aktivitas konsultasi (consulting activity) yang bernilai tambah (value added) dan meningkatkan operasi perusahaan. Dengan demikian internal auditing membantu organisasi dalam mencapai tujuan dengan cara pendekatan yang terarah dan sistematis untuk menilai dan mengevaluasi keefektifan manajemen resiko (risk management) melalui pengendalian (control) dan proses tata kelola yang baik (governance processes). Pengertian risk management secara umum merupakan pengelolaan risiko-risiko yang terkait dengan aktivitas, fungsi dan proses, sehingga suatu organisasi dapat meminimalkan kerugian (loss) dan memaksimalkan kesempatan (opportunity). Pengelolaan risiko meliputi identifikasi, analisis, assesment, penanganan, monitoring dan komunikasi risiko.

Paradigma Baru VS Paradigma Lama

Peran internal auditor sebagai watchdog telah berlangsung lama sekitar tahun 1940-an, sedangkan peran sebagai konsultan baru muncul sekitar tahun 1970-an. Adapun peran internal auditor sebagai katalist baru berkembang sekitar tahun 1990-an. Perbedaan pokok ketiga peran internal auditor tersebut adalah sebagai berikut:

URAIAN WATCHDOG CONSULTANT CATALIST
Proses Audit kepatuhan (Compliance Audit) Audit operasional Quality Assurance
Fokus Adanya Variasi (penyimpangan, kesalahan atau kecurangan dll) Penggunaan sumber daya (resources) Nilai (Values)
Impact Jangka pendek Jangka menengah Jangka panjang

Berdasarkan tabel tersebut dapat dijelaskan, sebagai berikut :

WATCHDOG. Peran watchdog meliputi aktivitas inspeksi, observasi, perhitungan, cek & ricek yang bertujuan untuk memastikan ketaatan / kepatuhan terhadap ketentuan, peraturan atau kebijakan yang telah ditetapkan. Audit yang dilakukan adalah compliance audit dan apabila terdapat penyimpangan dapat dilakukan koreksi terhadap sistem pengendalian manajemen. Peran watchdog biasanya menghasilkan saran / rekomendasi yang mempunyai impact jangka pendek, misalnya perbaikan sistem & prosedur atau internal control.

CONSULTANT. Peran internal auditor sebagai konsultan diharapkan dapat memberikan manfaat berupa nasehat (advice) dalam pengelolaan sumber daya (resources) organisasi sehingga dapat membantu tugas para manajer operasional. Audit yang dilakukan adalah operational audit / performance audit, yaitu meyakinkan bahwa organisasi telah memanfaatkan sumber daya organisasi secara ekonomis, efisien dan efektif (3E) sehingga dapat dinilai apakah manajemen telah menjalankan aktivitas organisasi yang mengarah pada tujuannya. Rekomendasi yang dibuat oleh auditor biasanya bersifat jangka menengah.

CATALIST. Peran internal auditor sebagai katalis berkaitan dengan quality assurance, sehingga internal auditor diharapkan dapat membimbing manajemen dalam mengenali risiko-risiko yang mengancam pencapaian tujuan organisasi. Quality assurance bertujuan untuk meyakinkan bahwa proses bisnis yang dijalankan telah menghasilkan produk / jasa yang dapat memenuhi kebutuhan customer. Dalam peran katalis, internal auditor bertindak sebagai fasilitator dan agent of change. Impact dari peran katalis bersifat jangka panjang, karena focus katalis adalah nilai jangka panjang (longterm values) dari organisasi, terutama berkaitan dengan tujuan organisasi yang dapat memenuhi kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dan pemegang saham (stake holder).

Terdapat pergeseran filosofi internal auditing dari paradigma lama menuju paradigma baru, yang ditandai dengan perubahan orientasi dan peran profesi internal auditor. Pada abad 21 ini, internal auditor lebih berorientasi untuk memberikan kepuasan kepada jajaran manajemen sebagai pelanggan (customer satisfaction). Internal auditor tidak dapat lagi hanya berperan sebagai watchdog, namun harus dapat berperan sebagai mitra bisnis bagi manajemen.

Perbedaan antara paradigma lama (pendekatan tradisional) dengan paradigma baru (pendekatan baru) sebagai berikut :

URAIAN PARADIGMA LAMA PARADIGMA BARU
Peran Watchdog Konsultan & Katalis
Pendekatan Detektif (mendeteksi masalah) Prefentif (mencegah masalah)
Sikap Seperti Polisi Sebagai mitra bisnis / customer
Ketaatan / kepatuhan Semua policy / kebijakan Hanya policy yang relevan
Fokus Kelemahan / penyimpangan Penyelesaian yang konstruktif
Komunikasi dengan manajemen terbatas Reguler
Audit Financial / compliance audit Financial, compliance, operasional audit.
Jenjang karir Sempit (hanya auditor) Berkembang luas (dapat berkarir di bagian / fungsi lain)

Risk Based Audit Approach

Pendekatan risk based audit memerlukan keterlibatan internal auditor dalam risk assessment. Risk assessment menyoroti peran internal auditor dalam identifikasi dan analisis risiko-risiko bisnis yang dihadapi perusahaan. Oleh karena itu diperlukan sikap proaktif dari internal auditor dalam mengenali resiko-resiko yang dihadapi manajemen dalam mencapai tujuan organisasinya. Internal auditor dapat menjadi mitra manajemen dalam meminimalkan resiko kerugian (loss) serta memaksimalkan peluang (opportunity) yang dimiliki perusahaan.

Penentuan tujuan dan ruang lingkup audit serta alokasi sumber daya internal auditor sepenuhnya didasarkan pada prioritas tingkat resiko bisnis yang dihadapi organisasi. Dalam risk assessment terdapat 3 (tiga) konsep penting yaitu tujuan (goal), resiko (risk) dan kontrol (control). Tujuan merupakan outcome yang diharapkan dapat dihasilkan oleh suatu proses atau bisnis. Risiko adalah kemungkinan suatu kejadian / tindakan akan menggagalkan atau berpengaruh negatif terhadap kemampuan organisasi dalam mencapai tujuan bisnisnya, sedangkan kontrol merupakan elemen-elemen organisasi yang mendukung manajemen dan karyawan dalam mencapai tujuan organisasi.

Agar risk based audit dapat berhasil dengan baik diperlukan kerjasama antara internal auditor dengan manajemen dalam melakukan control self assessment. Control self assessment merupakan proses dimana manajemen melakukan self assessment terhadap pengendalian atas aktivitas pada unit operasional masing-masing dengan bimbingan internal auditor.

Dalam hal ini, manajemen melakukan identifikasi resiko bisnis serta mengevaluasi apakah telah ada pengendalian yang dapat mengurangi resiko tersebut serta mengembangkan action plan untuk meningkatkan pengendalian yang ada. Manfaat utama dari control self assessment oleh manajemen adalah adanya kesadaran bahwa tanggungjawab untuk menilai risiko dan pengendalian aktivitas suatu organisasi berada ditangan manajemen sendiri sehingga dapat meningkatkan ownership of control.

Berdasarkan paradigma baru profesi internal auditor tersebut, dapat disimpulkan sebagai berikut: pertama, pada era abad ke-21 ini peran internal auditor tidak dapat lagi hanya sebagai watchdog saja, namun perlu ditingkatkan perannya menjadi konsultan dan katalis bagai manajemen, sehingga internal auditor dapat menjadi mitra bisnis bagi manajemen. Kedua, internal auditor perlu merubah pendekatan dalam melakukan audit, yaitu dari pendekatan tradisional menuju risk based audit approach.*

Daftar Pustaka
1. Sofwan, Irwan : “Peran Internal Auditor dalam Perkembangan Organisasi menjelang abad 21“, bahan pelatihan internal audit tingkat manajerial, Yayasan Pendidikan Internal Audit (YPIA), Jakarta, desember 1997.

2. Samid, Suripto : “Peran Audit Internal sebagai Alat Manajemen untuk mengurangi Risiko“, makalah Seminar FKSPI BUMN/BUMD, Bandung, 5 September 2002.

Sumber:

http://swamandiri.org/2008/05/22/paradigma-baru-internal-auditor/

Kerangka Kerja Risk Management

KERANGKA KERJA RISK MANAGEMENT

Risk Management pada dasarnya adalah proses menyeluruh yang dilengkapi dengan alat, teknik,
dan sains yang diperlukan untuk mengenali, mengukur, dan mengelola risiko secara lebih
transparan. Sebagai sebuah proses menyeluruh Risk Management menyentuh hampir setiap
aspek aktivitas sebuah entitas bisnis, mulai dari proses pengambilan keputusan untuk
menginvestasikan sejumlah uang, sampai pada keputusan untuk menerima seorang karyawan
baru.
Berdasarkan konsep dasar di atas salah satu paradigma penting yang ditawarkan oleh Risk
Management di dalam mengelola risiko adalah bahwa risiko dapat didekati dengan menggunakan
suatu kerangka pikir yang sangat rasional. Hal ini dimungkinkan berkat berkembangnya teori
probabilitas dan statistik yang memungkinkan kita memiliki alat untuk memilah, meng-quantify
dan mengukur risiko. Asumsi yang mendasari hal ini adalah bahwa statistik mengandung
didalamnya “ingatan numerik” (numerical memory) yang bertitik tolak dari hal itu kita dapat
membaca suatu alur tertentu yang memungkinkan kita memproyeksikan kemungkinankemungkinan
yang akan kita hadapi di masa mendatang.
Bagaimanapun, Risk Management tetaplah hanya alat bantu bagi manajemen dalam proses
pengambilan keputusan. Risk Management bukanlah sekedar angka statistik, teknik ataupun
teknologi. Wujud penerapan terbaik Risk Management merupakan suatu proses membangun
kesadaran tentang risiko di seluruh komponen organisasi, suatu proses pendidikan bagaimana
menggunakan alat dan teknik yang disediakan oleh Risk Management tanpa harus dikendalikan
olehnya, dan mengembangkan naluri pengambilan keputusan yang kuat (khususnya terhadap
risiko).
Kerangka Kerja Risk Management
Sebagai sebuah proses, kerangka kerja Risk Management pada dasarnya terbagi dalam tiga
tahapan kerja :
1. Identifikasi Risiko
Identifikasi Risiko adalah rangkaian proses pengenalan yang seksama atas risiko dan
komponen risiko yang melekat pada suatu aktivitas atau transaksi yang diarahkan kepada
proses pengukuran serta pengelolaan risiko yang tepat. Identifikasi Risiko adalah pondasi
dimana tahapan lainnya dalam proses Risk Management , dibangun.
2. Pengukuran Risiko
Pengukuran Risiko adalah rangkaian proses yang dilakukan dengan tujuan untuk memahami
signifikansi dari akibat yang akan ditimbulkan suatu risiko, baik secara individual maupun
portofolio, terhadap tingkat kesehatan dan kelangsungan usaha. Pemahaman yang akurat
tentang signifikansi tersebut akan menjadi dasar bagi pengelolaan risiko yang terarah dan
berhasil guna.
3. Pengelolaan Risiko
Pengelolaan risiko pada dasarnya adalah rangkaian proses yang dilakukan untuk
meminimalisasi tingkat risiko yang dihadapi sampai pada batas yang dapat diterima. Secara
kuantitatif upaya untuk meminimalisasi risiko ini dilakukan dengan menerapkan langkahlangkah
yang diarahkan pada turunnya (angka) hasil ukur yang diperoleh dari proses
pengukuran risiko.
Identifikasi Risiko
Sebagai suatu rangkaian proses, identifikasi risiko dimulai dengan pemahaman tentang apa
sebenarnya yang disebut sebagai risiko. Sebagaimana telah didefiniskan di atas, maka risiko
adalah : tingkat ketidakpastian akan terjadinya sesuatu/tidak terwujudnya sesuatu tujuan, pada
suatu kurun/periode tertentu (time horizon).
Bertitik tolak dari definisi tersebut maka terdapat dua tolok ukur penting di dalam pengertian
risiko, yaitu :
1. Tujuan (yang ingin dicapai)/Objectives
Untuk dapat menetapkan batas-batas risiko yang dapat diterima, maka suatu perusahaan harus
terlebih dahulu menetapkan tujuan-tujuan yang ingin dicapai secara jelas. Seringkali
ketidakjelasan mengenai tujuan-tujuan yang ingin dicapai mengakibatkan munculnya risikorisiko
yang tidak diharapkan.
2. Periode Waktu (Time Horizon)
Periode waktu yang digunakan di dalam mengukur tingkat risiko yang dihadapi, sangatlah
tergantung pada jenis bisnis yang dikerjakan oleh suatu perusahaan. Semakin dinamis
pergerakan faktor-faktor pasar untuk suatu jenis bisnis tertentu, semakin singkat periode waktu
yang digunakan di dalam mengukur tingkat risiko yang dihadapi. Contoh, seorang manajer
pasar uang di suatu bank mestinya akan melakukan pemantauan atas tingkat risiko yang
dihadapi secara harian. Di lain pihak seorang manajer portofolio kredit/capital market,
mungkin akan menerapkan periode waktu 1 bulan untuk melakukan pemantauan atas tingkat
risiko yang dihadapi.
Pemahaman yang benar atas kedua tolok ukur tersebut akan sangat menentukan validitas dan
efektifitas dari konsep Risk Management yang akan dibangun.
Tahapan selanjutnya dari proses identifikasi risiko adalah mengenali jenis-jenis risiko yang
mungkin (dan umumnya) dihadapi oleh setiap pelaku bisnis. Khusus untuk industri perbankan,
salah satu rujukan yang digunakan dalam merumuskan jenis-jenis risiko yang dihadapi oleh
kalangan perbankan adalah apa yang tercantum di dalam Core Principle for Effective Banking
Supervision (Basel Core principles) September 1997, yang tergabung di dalam Compendium of
documents produced by the Basel Committee on Banking Supervision, February 2000. Jenis-jenis
risiko menurut dokumen tersebut adalah :
1. Risiko Kredit (Credit Risk)
Adalah risiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh kegagalan counterparty (debitur)
dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya sesuai yang disyaratkan oleh kontrak/
perjanjian.
Risiko ini tidak hanya muncul dari kredit/pinjaman (loan) melainkan juga meliputi
komponen-komponen lain, baik on maupun off balance sheet seperti Garansi, Akseptasi,
Securities Investment, dll.
2. Risiko Negara dan Pengalihan (Country and Transfer Risk)
Adalah risiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh kondisi lingkungan ekonomi,
sosial, politik dari negara asal counterparty (debitur). Risiko ini muncul dalam transaksi
pinjaman lintas negara.
3. Risiko Pasar (Market Risk)
Adalah risiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh pergerakan harga di pasar. Risiko
ini harus dilihat dalam konteks prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku saat ini. Risiko ini
tampak jelas pada aktivitas trading seperti debt/equity instruments, foreign exchange, atau
komoditas.
4. Risiko Tingkat Bunga (Interest Rate Risk)
Adalah risiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh pergerakan tingkat bunga di
pasar.
5. Risiko Likuiditas (Liquidity Risk)
Adalah risiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh ketidakmampuan bank untuk
mengakomodasi berkurangnya pasiva/liabilities atau untuk membiayai/mendanai
peningkatan di sisi aktiva/assets.
6. Risiko Operasional (Operational Risk)
Adalah risiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh pelanggaran atas ketentuanketentuan
internal maupun atas kebijakan-kebijakan bank.
7. Risiko Hukum (Legal Risk)
Adalah risiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh ketidakcukupan (inadequacy)
atau kesalahan dalam pemberian pendapat hukum maupun dokumentasi hukum.
8. Risiko Reputasi (Reputational Risk)
Adalah risiko (munculnya kerugian) yang disebabkan oleh kegagalan di dalam operasional
bank khususnya kegagalan dalam memenuhi ketentuan-ketentuan hukum atau peraturan
yang dikenakan atas bank.
Pengukuran Risiko
Pengukuran Risiko dibutuhkan sebagai dasar (tolok ukur) untuk memahami signifikansi dari
akibat (kerugian) yang akan ditimbulkan oleh terealisirnya suatu risiko, baik secara individual
maupun portofolio, terhadap tingkat kesehatan dan kelangsungan usaha bank. Lebih lanjut
pemahaman yang akurat tentang signifikansi tersebut akan menjadi dasar bagi pengelolaan risiko
yang terarah dan berhasil guna.
A. Dimensi Risiko
Signifikansi suatu risiko maupun portofolio risiko dapat diketahui/disimpulkan dengan
melakukan pengukuran terhadap 2 dimensi risiko yaitu :
i. Kuantitas (quantity) risiko, yaitu jumlah kerugian yang mungkin muncul dari
terjadinya/terealisirnya risiko. Dimensi kuantitas risiko dinyatakan dalam satuan mata uang.
ii. Kualitas (quality) risiko, yaitu probabilitas (likelihood) dari terjadinya/terealisirnya
risiko. Dimensi kualitas risiko dapat dinyatakan dalam bentuk : confidence level, matrix
risiko (tinggi, sedang, rendah), dan lain-lain yang dapat menggambarkan kualitas risiko
Dua dimensi ini harus muncul sebagai hasil dari proses pengukuran risiko.
B. Alat Ukur Risiko
Sebagai suatu konsep baru yang sedang terus dikembangkan, terdapat berbagai macam
metode pengukuran risiko yang muncul dan diujicobakan oleh para pelaku pasar.
i. Value At Risk
Salah satu metode yang banyak diterima dan diaplikasikan saat ini adalah apa yang dikenal
dengan metode Value At Risk (VAR). Value At Risk pada saat ini dapat dianggap sebagai
metode standar di dalam mengukur Risiko Pasar (Market Risk), dan mulai banyak
digunakan untuk mengukur Risiko (Portofolio) Kredit.
Per definisi Value At Risk adalah : kerugian terbesar yang mungkin terjadi dalam rentang
waktu/periode tertentu yang diprediksikan dengan tingkat kepercayaan tertentu (“predicted
worst-case loss with a specific confidence level over a period of time”). Konsep VAR
berdiri di atas dasar observasi statistik atas data-data historis dan relatif dapat dikatakan
sebagai suatu konsep yang bersifat obyektif.
Upaya untuk mengukur risiko telah dilakukan orang dengan berbagai cara. Berbagai
indikator yang sering digunakan oleh bank dalam mengukur dan mengelola Risiko Kredit
atas portofolio kreditnya misalnya : penetapan rating, pembatasan tenor, pembatasan sektor
industri, penetapan watch list, dsb. Risiko Pasar misalnya : volatilitas, sensitivitas, dsb.
Risiko Tingkat Bunga misalnya : Liquidity Gap, Interest Rate Gap, dsb. VAR, dapat
dikatakan, merangkum seluruh substansi yang ingin ditangkap dari alat-alat atau metodemetode
tradisional tersebut. VAR juga megakomodasi kebutuhan untuk mengetahui potensi
kerugian atas exposure tertentu. VAR juga dapat diterapkan pada berbagai level transaksi,
mulai dari individual exposure sampai pada portfolio exposures. Dua hal yang tidak dapat
ditawarkan oleh alat metode tradisional seperti disebutkan di atas.
Secara umum ada empat pertanyaan dasar yang akan dijawab dengan menggunakan konsep
VAR yaitu :
Ø Berapa banyak bank akan mengalami kerugian?
Ø Apakah kerugian tersebut akan terkonsentrasi pada satu aspek tertentu (obligor,
area, jenis risiko)?
Ø Exposure mana yang akan meminimalkan risiko dari exposure yang lain?
Ø Berapa banyak keuntungan yang dapat diperoleh dengan mengambil risiko tersebut?
ii. Stress Testing
Salah satu keterbatasan konsep VAR adalah bahwa VAR hanya efektif diterapkan dalam
kondisi pasar yang normal. Konsep VAR tidak dirancang untuk memprediksikan terjadinya
suatu kejadian yang akan menyebabkan runtuhnya pasar (unexpected event) seperti perang,
bencana alam, perubahan drastis di bidang politik, dll.
Konsep Stress Testing memberikan jawaban untuk masalah tersebut. Konsep Stress Testing
dirancang sebagai suatu pendekatan subyektif terhadap risiko yang bagian terbesarnya
tergantung pada human judgement. Konsep ini adalah sebuah rangkaian proses eksplorasi,
mempertanyakan, dan berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan (khususnya terkait
dengan risiko) pada saat terjadinya sesuatu yang dianggap “tidak mungkin” (very unlikely)
terjadi.
Di dalam konsep Stress Testing dilakukan hal-hal sebagai berikut :
Ø Menyusun beberapa skenario (terjadinya unexpected event)
Ø Melakukan revaluasi (risiko) atas portofolio
Ø Menyusun kesimpulan atas skenario-skenario tersebut
Stress Testing harus dilaksanakan secara periodik dengan melibatkan Senior Management.
iii. Back Testing
Suatu model hanya berguna jika model tersebut dapat menerangkan realitas yang terjadi.
Demikian pula dengan model pengukuran risiko. Untuk menjaga reliability dari model,
maka secara periodik suatu model pengukuran harus diuji dengan menggunakan suatu
konsep yang dikenal dengan Back Testing.
C. Risiko vis a vis Pricing dan Modal
Hasil yang diperoleh dari proses pengukuran risiko menggambarkan potensi kerugian yang
akan muncul dalam hal risiko terealisir. Dalam konsep Risk Management kerugian tersebut
harus diantisipasi dengan cara menyisihkan sejumlah modal sebagai cushion/buffer yang akan
melindungi (kemampuan keuangan) perusahaan. Semakin tinggi risiko yang diambil, semakin
besar pula modal yang dibutuhkan.
Penyisihan sejumlah modal (di luar PPAP) tersebut tentunya akan mengakibatkan
munculnya opportunity loss bagi perusahaan/bank. Sebagai konsekuensi maka Risk
Management mengenal apa yang disebut sebagai RAROC atau Risk Adjusted Return On
Capital. Konsep pricing yang menggunakan RAROC akan secara jelas memperlihatkan
seberapa tinggi risiko dari satu counterpart di mata bank/perusahaan yang melakukan evaluasi
risiko.
Pengelolaan Risiko
Jika risiko-risiko yang dihadapi oleh perusahaan telah diidentifikasi dan diukur maka pertanyaan
selanjutnya adalah : “Profil/Struktur Risiko yang bagaimana yang terbaik bagi perusahaan?”
Pertanyaan tersebut mengarah kepada upaya untuk :
1. Meningkatkan kualitas dan prediktabilitas dari pendapatan perusahaan (earning)
untuk mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham (shareholder value)
2. Mengurangi kemungkinan munculnya tekanan pada kemampuan keuangan
(financial distress)
3. Mempertahankan marjin operasi (operating margin)
Konsep Pengelolaan Risiko berbicara seputar alternatif cara untuk mencapai tujuan-tujuan di atas.
Pada dasarnya mekanisme Pengelolaan Risiko dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Membatasi Risiko (Mitigating Risk)
Membatasi Risiko dilakukan dengan menetapkan limit risiko, baik untuk individual
exposure maupun portfolio exposure, yang dapat diterima oleh perusahaan.
Penetapan Limit Risiko yang dapat diterima oleh perusahaan tidak semata-mata dilakukan
untuk membatasi risiko yang diserap oleh perusahaan, melainkan juga harus diarahkan
kepada upaya untuk mengoptimalkan nilai bagi pemegang saham. Pendekatan tersebut
terkait dengan konsekuensi (Modal/Capital) yang muncul dari angka-angka risiko yang
dihasilkan dari proses pengukuran risiko. Artinya penetapan batas risiko dengan berbagai
konsekuensi (finansial) yang muncul kemudian harus menghasilkan struktur neraca
maupun rugi laba yang optimal bagi para pemegang saham.
2. Mengelola Risiko (Managing Risk)
Sebagaimana kita ketahui, nilai exposure yang dimiliki oleh perusahaan dapat bergerak
setiap saat sebagai akibat pergerakan di berbagai faktor yang menentukan di pasar. Dalam
kondisi demikian, maka angka yang dihasilkan dari proses pengukuran risiko di awal
(munculnya exposure) akan berkurang validitasnya. Artinya bisa jadi profile risiko akan
berubah sehingga tidak lagi dapat memberikan hasil yang optimal bagi pemegang saham.
Untuk itu maka dibutuhkan suatu proses untuk mengembalikan profil risiko kembali
kepada profil yang memberikan hasil optimal bagi pemegang saham. Proses dimaksud
dilakukan melalui berbagai jenis transaksi yang pada dasarnya merupakan upaya untuk :
a. Menyediakan cushion/buffer untuk mengantisipasi kerugian yang mungkin
muncul dalam hal risiko yang diambil terealisir.
b. Mengurangi/menghindarkan perusahaan dari kerugian total (total loss) yang
mucul dalam hal risiko terealisir
c. Mengalihkan risiko kepada pihak lain
3. Memantau Risiko (Monitoring Risk)
Pemantauan risiko pada dasarnya adalah mekanisme yang ditujukan untuk dapat
memperoleh informasi terkini (updated) dari profile risiko perusahaan.
Sekali lagi, Risk Management tetaplah hanya alat bantu bagi manajemen dalam proses
pengambilan keputusan. Wujud penerapan terbaik Risk Management merupakan suatu proses
membangun kesadaran tentang risiko di seluruh komponen organisasi perusahaan, suatu proses
pendidikan bagaimana menggunakan alat dan teknik yang disediakan oleh Risk Management
tanpa harus dikendalikan olehnya, dan mengembangkan naluri pengambilan keputusan yang kuat
terhadap risiko.
DAFTAR PUSTAKA
1. Bessis, Joel (1998) Risk Management in Banking, John Wiley & Sons Ltd., West Sussex,
England
2. The RiskMetrics Group n(1998), Exploring Risk and Managing Risk
3. Compendium of documents produced by the Basel Committee on Banking Supervision,
February 2000

Sumber:
http://www.bexi.co.id/images/_res/perbankan-Kerangka%20Kerja%20Risk%20Management.pdf

Jumat, 16 Mei 2008

7 Habits of Highly Effective Adeniumania

Artikel menarik ini telah dipublish pada milis Adeniumania dan ditulis oleh moderatornya sendiri Argy. Seperti halnya Covey yang banyak mengajarkan pikiran dan ide-ide yang sangat universal, diharapkan tulisan ini dapat memberi insprisasi betapa pentingnya kegiatan eksplorasi dan terobosan-terobosan baru dalam pemuliaan adenium. Salam Adeniumania, Berbagai permasalahan dan pengalaman sudah begitu banyak di-share di milis ini (juga di milis tetangga tentunya). Mungkin tidak semua bisa terjawab dengan memuaskan karena begitu banyak perspektif yang harus ditinjau. Karena pengalaman harus diuji secara empiris, dikaji nggak hanya tekstual (teoritis) tapi kontekstual (praktis). Tidak ada jawaban yg 100% tepat, karena resep' yg tepat dan 'super-jitu' belum tentu sesuai dengan kondisi yg ada. Dalam minggu di awal bulan Mei ini saya akan posting beberapa topik bertajuk '7 Kebiasaan Adeniumania yang Sangat Efektif' (7 Habits of Highly Effective Adeniumania) poin demi poin. Saya sengaja menggunakan bahasa yg tidak terlalu 'botanist' atau 'agriculturist', karena selain karena saya tidak kompeten dibidang itu, juga saya yakin, dimilis ini lebih banyak orang awam (termasuk saya) dari pada yg sudah pakar. Harapan saya Adeniumania, terutama yg pemula bisa terinspirasi oleh tulisan ini. Kritik, saran dan tanggapan sangat dihargai. Maju terus adeniumania! Argy. Adeniumania-Indonesia. It is about doing, not about trying.. First Habit 1. Understanding the adenium character, needs, threats and the way it live. Before you intend to cultivate adenium, seek information and understanding about adenum charracteristics including their needs, threats (pest and diseases) and the way it live in its habitat. You have to know exactly everything about the plant you'll cultivate. 1. Memahami karakter, kebutuhan, ancaman dan cara hidup adenium. Sebelum anda berniat untuk membudidayakan adenium, carilah informasi dan pemahaman yang benar tentang berbagai hal menyangkut tanaman ini seperti kebutuhannya, ancaman (hama dan penyakit) dan cara hidup di habitatnya. Anda harus mangetahui dengan benar apa yg akan anda budidayakan. 2nd Habit: Seek for high quality hybrids only according to your appetite. There are thousands adenium hybrids. You do not have to have all kind of adenium hybrids brought into your back yard garden. Choose only high quality that suitable with your appetite and your financial condition. Do not push your self too much. Be cost effective! Carilah bibit yang berkualitas sesuai dengan selera anda. Ada banyak ribuan jenis adenium. Anda tidak perlu punya semua untuk ditanam di halaman anda. Pilihlah hanya yg berkualitas yg paling cocok dengan selera anda dan juga isi kocek anda tentunya. Jangan memaksakan diri dan jadilah orang yg cost effective (bijak dalam menangani biaya). 3rd Habit: Pay careful attention to growth media. Root is the vital part of a plant. Like pets, treat it with good and sufficient feeding, your plant will enjoy to be around with you. Perhatikan media tumbuh dengan seksama. Akar adalah bagian penting dari tanaman. Seperti hewan piaraan, berikan padanya makanan dan nutrisi yg baik dan cukup, maka dia akan tetap senang bersama anda. 4th Habit: Prune and shape as necessary. It is good to be natural, but with a little hand work and aestetics, your plant will look more natural in appearance. Pangkas dan bentuklah jika perlu. Memang baik jika terlihat alami, tapi dengan sedikit sentuhan estetika dan seni, tanaman anda akan terlihat jauh lebih alami. The 5th Habit: Know how to propagate and hybridize and do practices! This part could be the most interesting part of this hobby. You will explore and discover the amazing things in propagation. Beside, you will get more plants! More plants more funs! When you success in hybridization, you achieve your excellence. Cari tahu cara memperbanyak dan cara penyilangan dan praktekan! Mungkin dibagian ini adalah yg paling menarik dari hobi ini. Anda akan berekplorasi dan menemukan hal-hal yg mengagumkan pada proses perbanyakan tanaman ini. Lagipula, semakin banyak tanaman anda, semakin menyenangkan!. Kalau anda sudah menguasai dan berhasil dalam melakukan penyilangan berarti anda sudah mencapai keunggulan anda di hobi ini. Here's the 6th Monitor the growth development periodically. Take your time to watch your adenium grow. While you enjoy the beauty of adenium, you should oversee what happen to the plants. Your plant will not always free of any threats, at all the time. When you discover threats, resolve it immediately. Pantau perkembangan tanaman anda secara berkala. Sempatkan untuk memantau perkembangan adenium anda. Sambil anda menikmati indahnya adenium, anda juga harus memperhatikan adakah gejala2 yg menuntut perhatian dan tindakan anda. Tanaman anda tidak selalu bebas dari berbagai ancaman sepanjang waktu. Begitu anda melihat adanya ancaman, lakukan pencegahan dan penanganan sesegera mungkin. Last but not least...the 7th Habit: Learn from experiences continuously. Experience is the best teacher. You can learn more effectively from yours and/or others experinces. Text book or tips and tricks articles may help, although sometime it found confusing, but experince (especially yours) give you more real, accurate and timely feedback according to your condition and problems. A lot of big hobbysts even big hybridizers had made several trial and error, but ended with satisfactorily results. Belajarlah dari pengalaman. Pengalaman adalah guru yg terbaik. Anda bisa belajar dari pengalaman anda sendiri atau mengambil hikmah dari pengalaman orang lain. Tips-tips dari buku atau artikel memang membantu, walaupun kadang justru membingungkan, tapi pengalaman (terutama pengalaman pribadi) dapat memberikan contoh yg nyata, akurat dan umpan balik yg seketika berdasarkan keadaan dan permasalahan anda. Banyak hobbyst besar bahkan pemulia adenium yg melakukan 'trial and error' yg berakhir pada hasil yg memuaskan.

Mengenal: ADENIUM MULTIFLORUM


Famili: Apocynaceae Nama Umum: impala lily (Ing.); impalalelie (Afr.). Adenium multiflorum adalah jenis adenium yang dikenal luas di Afrika Selatan. Ia berbunga di musim dingin, di saat hampir semua vegetasi cenderung ‘merehatkan diri’, A. Multiflorum justru tampil brilian dengan warna-warna putih, pink, crimson, merah, dan dwiwarna yang memenuhi seluruh tajuknya saat sedang bermekaran.

Genus Adenium terdiri dari lima spesies sukulen dari daerah tropis Afrika, Arabia, dan Socotra. Formasinya yang menakjubkan sekaligus bunga indahnya yang kompak dan serempak serta mampu bertahan lama membuat genus ini dikenal sebagai tanaman hias.

Deskripsi Adenium multiflorum berprofil semak atau pohon kecil setinggi 0.5-3m, bentuknya seperti miniatur baobab. Percabangan rimbun mencuat sejak dari bonggol yang berukuran besar dan tersembunyi di bawah tanah. Warna batang utama dan percabangannya kelabu terang hingga coklat, dengan getah lengket dan mengandung zat racun. Sepanjang tahun tanaman ini tidak banyak berbunga ataupun berdaun lebat. Panjang daun mencapai 100 mm, hijau cerah di bagian atas dan memudar di bagian bawah, biasanya ke arah ujung daun lebih melebar, dan berkelompok di ujung tunas-tunas pada percabangannya. Daun akan rontok pada saat akan berbunga. Bunga tumbuh dan mekar dalam kelompok-kelompok dompolan, tiap bunga berdiameter 50-70mm. Warnanya amat cantik, biasanya berpetal lancip warna putih dan tepi merah bergelombang, serta pola garis merah pada leher terompet. Kadang dijumpai bunga adenium multiflorum berwarna putih polos. Bunganya mengeluarkan aroma halus. Musim bunga berkisar pada bulan Mei hingga September. Buah normal berupa sepasang tanduk sepanjang kurang lebih 240 mm. Biji berwarna coklat dengan bulu halus di kedua ujung biji. Dalam daftar yang disebut Red Data di Swaziland, Zambia, dan Zimbabwe, Adenium (impala lily) dinyatakan sebagai keragaman hayati yang dilindungi. Penyebarannya sebagian besar terjadi pada musim gugur di Afrika Selatan di kawasan Taman Nasional Kruger. Perlindungan diberikan kepada adenium multiflorum karena pemanfaatannya sebagai tanaman koleksi, bahan obat-obatan, pembudidayaan, dan menjadi pakan hewan liar seperti misalnya baboon yang menyukai bagian akar. Distributsi dan Habitat Distribusi alami Adenium multiflorum meliputi Zambia tenggara, berlanjut ke Malawi, Zimbabwe dan Mozambique, Limpopo, Mpumalanga dan ke utara di KwaZulu-Natal di Afrika Selatan, serta Swaziland. Habitatnya meliputi wilayah tanah berpasir atau kawasan alluvium berbatu cadas, padang tandus terbuka ataupun padang rumput. Dijumpai terutama di dataran rendah dengan sedikit hujan dan di bagian timur Afrika Selatan, di selatan Sungai Zambezi, dengan ketinggian 1-200 m dpl. Adenium multiflorum tumbuh hanya di wilayah tandus Afrika Selatan, dengan penyebaran luas di Afrika bagian tengah dan Timur. Penamaan dan aspek historis J.J. Roemer dan J.A. Schultes memberi nama genus Adenium pada tahun 1819; hingga kini telah ada 12 spesies yang masuk ke dalam genus ini. Pada revisi terbaru oleh Plazier, hanya ada lima spesies yang dikenal di kawasan Afrika bagian selatan. Nama genus ini diambil dari dialek yang dikenal oleh penduduk setempat untuk Adenium obesum, yakni Oddaeyn, atau dari Aden, di mana A. obesum pertama kali ditemukan. J.F. Klotzsch memberi nama A. multiflorum pada tahun 1861 dari berbagai material yang dikumpulkannya di Mozambique. Arti dari bahasa Latinnya merujuk banyaknya jumlah dan serempaknya bunga yang mekar berbarengan pada tanaman ini. Pada revisi sebelumnya, L.E. Codd menganggap A. multiflorum sebagai suatu varietas dan G.D. Rowley menganggapnya sebagai subspesies dari spesies di utara, yakni A. obesum. Pada revisi paling akhir, A. multiflorum kembali menempati posisi sebagai spesies. Tiga spesies Adenium lain di Afrika bagian selatan adalah A. boehmianum, A. oleifolium dan A. swazicum. A. boehmianum terdapat di bagian utara Namibia. A swazicum, berprofil lebih kecil dan berbunga di musim panas dengan warna bunga pink, dijumpai di Mpumalanga dan Swaziland. A. oleifolium tumbuh di Limpopo, Northern Cape, Namibia dan Botswana. Hingga tingkat tertentu ketiganya pun telah dibudidayakan. Ekologi Tanaman ini ditemukan di berbagai habitat. Dalam kelompok besar cenderung tumbuh kecil dan menyemak. Di kawasan yang dilindungi, tanaman ini bisa tumbuh menjadi pohon yang gagah. Tanaman ini memiliki batang utama yang tebal dan berumbi di dalam tanah, yang berfungsi sebagai cadangan makanan di saat kemarau panjang. Secara alami berbiak dari biji, yang beradaptasi untuk penyebaran melalui angin dengan memiliki bulu-bulu halus dan ringan. Manfaat Di Afrika dan Afrika bagian selatan dimanfaatkan untuk meracun ikan atau dioleskan ke ujung tajam anak panah. Racun ini berasal dari getah dan bagian batangnya, tapi akan berfungsi dengan kombinasi dengan bahan racun lain. Daun dan bunganya beracun bagi kambing dan lembu, tapi menjadi pakan bagi hewan lain dan racunnya dianggap tidak terlalu kuat. Terlepas dari kadar racunnya, tanaman ini berguna pula sebagai obat. Dari aspek hortikultura, bunganya cukup bernilai. Ukuran yang besar dengan bunga mekar penuh dan serempak menjadi pemandangan indah tersendiri di antara genus sukulen, dan sangat dikagumi di kebun-kebun alam terbuka beriklim yang cocok. Adenium multiflorum dikembangkan secara luas di pondok peristirahatan di dalam Kruger National Park, misalnya. Menanam Adenium multiflorum Adenium multiflorum tumbuh baik di iklim hangat dengan drainase yang berpasir dan porous. Tumbuh kurang baik di iklim dingin. Sangat ideal di wilayah kering berbatu untuk menghasilkan bunga yang semarak menyambut musim dingin. Sebagai tanaman pot dapat disimpan di tempat lebih sejuk, tapi dengan penyiraman yang jarang atau dihentikan di masa dormant. Selain perbanyakan melalui grafting, tanaman ini tumbuh amat vigor jika dikembangkan dari biji, tapi amat jarang berbunga hingga mencapai usia 4-5 tahun. Takson ini akan terlihat dalam kultivasi, tapi ketersediaannya tidak seperti A. obesum, disebabkan pertumbuhannya yang cenderung lambat dan musim berbunga yang pendek. Di Shingwedzi Camp di Kruger National park terdapat beberapa spesimen tumbuh amat mengagumkan. Siram dengan baik selama cuaca panas. Jaga media tetap basah pada suhu sekitar 30º C, cuaca panas sebaiknya diimbangi dengan kelembaban sedang hingga tinggi. Respon tanaman ini amat baik terhadap pemupukan imbang dan teratur. Tambahkan pupuk slow-release dan mikronutrien pada media tanam. Kekurangan air dan makanan akan menghambat pertumbuhan. Adenium sebaiknya ditanam dalam pot pada daerah beriklim dingin atau basah. Dormansi dapat diketahui saat konsumsi air menurun atau daun menguning: penyiraman secara drastis dikurangi dan hentikan pada saat tanaman dalam dormansi penuh. Munculnya daun-daun baru dan tunas-tunas baru menandakan berakhirnya masa dormant dan penyhiraman bisa ditingkatkan. Tanaman memerlukan ruang perakaran yang leluasa agar tumbuh cepat, dengan demikian diperlukan repotting untuk menyesuaikan perbesaran akar. Kelebihan air dan pupuk dibarengi kekurangan cahaya dan buruknya sirkulasi udara menyebabkan tanaman melemah dan pertumbuhannya melambat.

Bolpho Pyllom: Sanseviera Langka 30 Jutaan

Sanseviera atau biasa disebut lidah mertua ini bagi penggemar tanaman hias masih diminati. Wajar, karena bentuknya yang sensual dan khas. Belum lagi khasiatnya yang baik untuk kese­hatan, yaitu sebagai penyerap antioksidan.
Sebagai tanaman gurun, sansevieria memiliki bentuk yang terbilang mini­malis. Tanpa banyak variasi, tanpa batang, dengan daun berstruktur keras. Karena bentuk yang tak biasa inilah, hati kolektor biasanya mulai kesengsem dengan tanaman yang sering digunakan anak kecil untuk mainan 'pedang-pedangan' ini.
Bentuknya yang unik, serta khasiatnya yang baik untuk menyerap radikal bebas. sanse­vieria juga dikenal memiliki serat yang kuat. Beberapa negara sudah mengembangkan industri tekstilnya dengan berbahan dasar tanaman ini.
Selain sebagai bahan dasar produk tekstil, di Amerika, sansevieria akrab dengan tentara. Serat sansevieria yang kuat sering dimanfaatkan oleh tentara untuk menarik tank yang terjebak di lautan pasir. Menurut literatur yang pemah saya baca, tanaman ini sering dirangkai dan menjadi tali. Rangkaian sansevieria ini konon sangat kuat, bahkan bila dibandingkan dengan tali tambang sekalipun, kata Syaichul Anam, Kolektor yang juga pemilik Gallery Black Gold Sansevieria Collection di Sidoarjo, Jatim. Sebagai distributor sekaligus kolektor tana­man hias, Syaichul juga memiliki jenis san­sevieria andalan. Sansevieria andalan itu dari jenis Bolpho Pyllom asal Amerika. Jenis ini adalah salah satu jenis sansevieria silin­dris langka yang biasa hidup di gurun pasir. la mendapatkan sansevieria langka ini dari teman sesama kolektor sekitar tahun 2006 lalu. Begitu melihatnya, Syaichul langsung tertarik dengan tanaman ini. Meski tak mau menyebut berapa harga yang dikeluarkan pada saat itu, pria kelahiran Surabaya, 6 Oktober 1963, ini mengaku kagum dengan tanaman ini, karena bentuknya yang sudah bercabang tiga. Tak sia-sia, salah satu koleksi sansevieria langka yang kini berusia 10 tahun ini pun pernah juga dikagumi oleh kolektor yang lain. Pada setiap pameran saya selalu membawa tanaman ini. Dan sesekali orang bertanya untuk dapat membe­linya. Sampai sekarang, nilai yang per­nah diajukan pernah mencapai sekitar Rp 30 juta, terang Syaichul. Mengingat langka dan keunikan Bolpho Pyllom miliknya, Syaichul pun berusaha untuk memperbanyak dan membudi­dayakan koleksinya ini. Berbagai cara pun ia lakukan demi mendapat bibit tanaman ini. Antisipasi Hama dan Penyakit Pada dasarnya tidak terlalu banyak hama dan penyakit yang menyerang sansevieria. Namun demikian beberapa hama dan patogen penyebab penyakit sering mengganggu pertumbuhan tanaman ini. Hama pada sansevieria umumnya dari jenis serangga yang merusak tanaman. Sedangkan penyakit yang menyerang adalah jamur dan bakteri. Hama Siput Siput yang telanjang atau yang berumah akan menyerang bagian daun, bahkan akar tanaman. Gejalanya mudah dikenali, karena tampak adanya bekas gigitan pada daun dan kotoran yang berserakan di sekitar tanaman. Siput aktif menyerang sansevieria pada malam hari. Pada umumnya, pember­antasan hama ini bisa dilakukan secara manual, yakni dengan cara mengambil dan membuang siput yang umumnya berada di bagian bawah daun. Akan tetapi, bila seran­gannya cukup hebat, dapat digunakan melusida Metaphar atau Moluskil dengan dosis sesuai anjuran, ujar Syaichul. Thrips Selain siput, hama jenis thrips juga sering menyebabkan kerusakan yang parah. Hama jenis ini menghisap cairan tanaman. sehing­ga mengganggu pertumbuhan tanaman. Di Indonesia, thrips yang menyerang biasanya dari jenis Herciotrips Feronalis. Hama ini biasanya akan menyerang pada musim kemarau. Thrips dapat diberantas dengan Kelthane, Tracer, atau Supracide dengan dosis sesuai anjuran. Penyakit Penyakit yang menyerang sansevieria umumnya merupakan gangguan yang diaki­batkan oleh adanya patogen atau jasad renik yang tidak terlihat oleh mata biasa. Busuk Lunak (Becterial Stem Rot) Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Envinia Carotovora yang menyerang daun atau akar tanaman, terutama menginfeksi melalui luka yang menganga. Daun atau akar yang terserang tampak berwarna kecoklat-cokla­tan dan terasa lunak bila dipegang, berlendir, serta berbau tidak enak, dan lama kelamaan akan berubah seperti bubur. Penyakit ini muncul apabila kondisi tanaman lembab akibat hujan yang terus menerus dan kurang cahaya. Patogen ini cepat menyebar melalui perantara air, serangga, tangan, alat pertanian, ataupun pakaian pekerja. Cara mengatasi serangan patogen ini adalah dengan memangkas bagian yang terkena serangan dan mengolesinya den­gan Na-hipoklorit (Clorox), serta membakar bagian yang terkena serangan. Sementara, untuk mencegah serangan bagian lainnya digunakan bakterisida Agrept sesuai dosis anjuran. Busuk Akar Busuk akar disebabkan oleh jamur Aspergillus Niger. Jamur ini muncul apabila kondisi media tumbuh terlalu basah. Apabila jamur ini telah menyerang, satu-satunya cara agar serangan tidak meluas adalah sebagai berikut: 1. Angkat tanaman dan potong akar yang busuk. Akan terlihat kumpulan spora jamur yang berwarna coklat kehitam-hita­man. 2. Cuci perakaran sampai bersih dan ren­dam sebentar dalam larutan fungisida (misalnya : Aliette dengan dosis sesuai anjuran dan labelnya). 3. Tanaman dalam media baru. 4. Bakar media yang lama, karena telah ter­cemar spora jamur. Bercak Daun Gejala serangan penyakit yang disebabkan oleh jamur Fusarium Moniliforme ini khas sekali, yaitu munculnya warna ungu kemer­ah-merahan pada daun yang terserang. Selanjutnya. bercak kemerah-merahan akan melebar dan membentuk luka. Pemupukan nitrogen yang terlalu tinggi akan memacu serangan fusarium ini. Untuk mencegah meluasnya serangan, lakukan langkah-langkah berikut : 1. Mula-mula, keluarkan tanaman dari pot dan buang bagian yang sakit. 2. Selanjutnya, tanam dalam media baru dan semprot dengan fungisida (misalnya : Benlate. Dithane, atau Antraco/ dengan dosis sesuai label). Cara Pengendalian Hama dan Penyakit Sansevieria Terdapat empatjenis pengendalian yang sering saya gunakan sebagai tindakan pencegahan. Tindakan tersebut antara lain pengendalian mekanis, sanitasi, kultur tek­nis, dan pengendalian kimiawi, kata Syaichul. Pengendalian Mekanis Pengendalian secara mekanis dilakukan apabila serangan hama masih dalam jumlah terbatas. Misalnya, siput dapat diambil de­ngan tangan dan dibunuh. Demikian juga dengan kutu yang terdapat pada bagian daun dapat didorong dengan kuku dan dibunuh. Semut-semut yang tidak terlalu banyak pun dapat diambil secara manual dengan tangan. Sanitasi Menjaga kebersihan lingkungan merupakan salah satu cara untuk menangkal serangan hama dan penyakit. Gulma yang tumbuh di sekitar tanaman merupakan tempat persem­bunyian yang disukai hama dan patogen penyebab penyakit. Dengan membersihkan kebun secara rutin, hama tidak mempunyai kesempatan untuk bersembunyi. Selain itu, kebun yang bersih akan sedap dipandang dan merupakan lingkungan kerja yang baik. Kultur Teknis Pemeliharaan tanaman yang baik dapat meningkatkan kesehatan tanaman. Penyiraman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, serta penggantian media tumbuh dapat meningkatkan pertum­buhan tanaman. Secara tidak langsung, kul­tur teknis yang baik dapat memantau keber­adaan hama dan penyakit secara dini. Pengendalian Kimiawi Apabila serangan hama dan penyakit telah berada di ambang batas atau mencapai 10%, pengendalian secara kimiawi merupa­kan pilihan. Akan tetapi, pemakaian bahan kimia secara berlebihan akan membawa dampak negatif bagi lingkungan. Untuk itu­lah penggunaanya harus terkontrol.

Euphorbia Lactea disukai Kaum Hawa

Bunga Euphorbia lactea yang full color mengundang simpati tersendiri utamanya bagi para wanita. Selain itu Euphorbia lactea menyimpan keunikan tersendiri saat memandangnya apalagi tanaman ini mudah untuk dirawat.
Mochammad Thoifur penghobi euphorbia asal Gresik mengatakan bahwa Euphorbia lactea memang memiliki daya tarik bagi wanita. Guru matematika sekaligus pemilik Fiqh NM itu tidak memungkiri tanaman koleksinya banyak diburu teru tama wanita, namun dirinya masih saja menyediakannya bagi khala-yak ramai dengan dalih tiap indivi-du punya jalur rejeki sendiri-sendiri meski dengan barang yang sama. Benar tidak kalau saya ngomong begitu?

Walau istilahnya sudah umum dan termasuk bukan barang baru lagi, tapi saya percaya rejeki sudah ada yang mengatur termasuk bisnis Euphorbia lactea, ujar Mochammad Thoifur di Gresik belum lama ini. Buktinya, 50 Euphorbia lactea koleksinya bersama graftingan adenium, separuhnya sudah ada yang memesan. Diantaranya dari Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Mataram, Bali, Kalimantan, tentun-ya daerah Jawa Timur juga ada. Namun saya simpan biar sehat dulu, maklum baru saja datang tanggal 19 Desember kemarin, paparnya. Pria yang akrab dipanggil Ipung ini lebih menekankan penjualan terhadap jaringannya sendiri, sehingga tidak khawatir nggak laku atau sepi pembeli. Meski secara pribadi ia sudah tahu tanaman hias yang dijual merupakan stok lama di pasaran. Wajar saja saya begitu, karena teman-teman yang kebanyakan pemain lama sudah siap menampung. Yah, bisa dibilang mereka semuanya rata-rata adalah penjual bunga juga, sama seperti saya. Jadi kenapa harus ragu barang baru saya kurang dikenal orang, ya karena tadi itu, punya pasar sendiri, tandasnya. Namun untuk pemula atau penghobi yang baru menerjuni dunia tanaman hias ia memberikan sekelumit contoh perawatan yang diharapkan bermanfaat di saat memelihara tanaman terutama untuk jenis lactea ini. Untuk tanaman yang baru datang, seperti Euphorbia lactea misalnya, untuk proses pemindahan dari pot asal, sebelumnya sudah dipersiapkan air yang dicampur dengan superthrive dan vitamin B1, kemudian akar atau bagian bawahnya dicelup-celupkan ke dalam larutan tadi, kalau sudah kering bisa dipindahkan ke media yang baru. Sedangkan untuk tanah yang akan ditempati bisa disemprot terlebih dahulu memakai campuran tadi, Imbuhnya. Saat berkunjung di pondok pesantren asuhannya daerah Krian, terlihat tertata rapi pot-pot berisi lactea dengan berbagai macam warna. Yang baru datang ada warna new red, red, new green, green, yellow, new yellow, purple, orange, soft lift. Tanaman tersebut bisa untuk outdoor maupun indoor. Yang banyak dicari warna ungu dan kuning, paparnya. la juga menekankan segi perawatan, karena kalau intensitasnya kurang kemungkinan bunga bisa layu atau busuk, meninggalkan lubang kecil. Namun jika terlalu banyak menyiraminya tidak baik juga. Setidaknya seminggu sekali disemprot fungisida supaya tidak gampang terserang penyakit. Penyiraman air hendaknya dilakukan hanya pada waktu media tanah kering, jika tidak maka bunga cepat busuk. Untuk musim hujan seperti sekarang ini, jika diletakkan di luar bagian atasnya lebih baik ditutup memakai paranet, begitu juga sekelilingnya, jelasnya. Dari pengalaman menjual bunga, Ipung melihat keunikan tersendiri dari lactea yakni bunganya disukai wanita. Betul juga, saat pertama kali datang ke rumah rekan seprofesi (guru), terutama yang perempuan, banyak yang menyukainya karena bunganya warna-warni, terlihat unik dan anggun. Mungkin saja bunga ini cocoknya untuk wanita yang terkenal telaten dalam hal rawat-merawat.